Tampilkan postingan dengan label Laporan Praktikum JarKom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan Praktikum JarKom. Tampilkan semua postingan

4.15.2011

Wireless Distribution System

Tugas Praktikum ke 5

Wireless WDS
Wireless Distribution System (WDS) Memungkinkan Interconnection Beberapa Access Point dalam Suatu Environment Wireless Network dengan Wireless Distribution System (WDS) memungkinkan jaringan wireless dikembangkan menggunakan beberapa access point tanpa harus memerlukan backbone kabel jaringan untuk menghubungkan mereka, seperti cara tradisional. Keuntungan yang bisa kelihatan dari Wireless Distribution Systemdibanding solusi lainnya adalah bahwa dengan Wireless Distribution System, header MAC address dari paket traffic tidak berubah antar link access point. tidak seperti pada proses encapsulation misalnya pada komunikasi antar router yang selalu menggunakan MAC address pada hop berikutnya.
Suatu access point bisa menjadi sebuah station utama, relay, atau remote base station. Suatu base station utama pada umumnya dihubungkan dengan system Ethernet. Base station relay merelay station-2 kepada base station utama atau relay station lainnya. Remote base station menerima koneksi dari clients wireless dan melewatkannya ke main station atau ke relay station juga. Koneksi antar clients menggunakan MAC address dibanding memberikan spesifikasi IP address. Semua base station dalam Wireless Distribution System (WDS) harus dikonfigure menggunakan channel radio yang sama, methoda inkripsi (tanpa inkripsi, WEP, atau WAP) dan juga kunci inkripsi yang sama. Mereka bisa dikonfigure dengan menggunakan SSID (service set identifiers) yang berbeda sebagai identitas. Wireless Distribution System (WDS) juga mengharuskan setiap base station untuk bisa melewatkan kepada lainnya didalam system.
Wireless Distribution System (WDS) bisa juga direferensikan sebagai mode repeater karena dia bisa tampak sebagai Bridge dan juga menerima wireless clients pada saat bersamaan (tidak seperti system bridge tradisional). Tetapi perlu juga diperhatikan bahwa throughput dalam metoda ini adalah menjadi setengahnya untuk semua clients yang terhubung secara wireless. Wireless Distribution System (WDS) bisa digunakan dalam dua jenis mode konekstivitas antar Access point
• Wireless Bridging dimana komunikasi access points Wireless Distribution System hanya satu dengan lainnya (antar AP) dan tidak membolehkan wireless clients lainnya atau Station(STA) untuk mengaksesnya.
• Wireless repeater dimana access point berkomunikasi satu sama lain dan juga dengan


wireless Station (STA)
Ada dua kerugian dalam system Wireless Distribution System (WDS) ini:
• Troughput efektif maksimum adalah terbagi dua setelah transmisi pertama (hop) dibuat. Misalkan, dalam kasus dua router dihubungkan system Wireless Distribution System (WDS), dan komunikasi terjadi antara satu komputer yang terhubung ke router A dengan sebuah laptop yang terhubung secara wireless dengan salah satu access point di router B, maka troughputnya adalah separuhnya, karena router B harus re-transmit informasi selama komunikasi antara dua belah sisi. Akan tetapi jika sebuah komputer dikoneksikan ke router A dan notebook di koneksi kan ke router B (tanpa melalui koneksi wireless), maka troughput tidak terbelah dua karena tidak ada re-transmit informasi.
Kunci inkripsi yang secara dinamis di berikan dan dirotasi biasanya tidak disupport dalam koneksi Wireless Distribution System (WDS). Ini berarti dynamic inkripsi WPA (Wi-Fi Protected Access) dan technology dynamic key lainnya dalam banyak kasus tidak dapat digunakan, walaupun WPA menggunakan pre-shared key adalah memungkinkan. Hal ini dikarenakan kurangnya standarisasi dalam issue ini, yang mungkin saja di selesaikan dengan standard 802.11s mendatang. Sebagai akibatnya cukuplah kunci static WEP dan WPA yang bisa digunakan dalam koneksi Wireless Distribution System, termasuk segala station yang difungsikan sebagai access point WDS repeater. Akan tetapi sekarang ini sudah banyak vendor yang telah engadopsi standard 802.11i dalam produk access point mereka sehingga WPA / WPA2 adalah standard keamanan koneksi mereka (setidaknya yang mereka claim). Gambar dibawah ini adalah access point yang dihubungkan dengan WDS Link point-to-point :




WDS Point to Point - Diagram
Dengan Wireless Distribution System, anda bisa membangun infrastrucktur wireless tanpa harus membangun backbone kabel jaringan sebagai interkoneksi antar bridge. Wireless Distribution System
fitur memungkinkan kita membuat jaringan-2 wireless yang besar dengan cara membuat link beberapa wireless access point dengan WDS Links. Wireless Distribution System normalnya digunakan untuk membangun jaringan yang besar dimana menarik kabel jaringan adalah tidak memungkinkan, alias mahal, terbatas, atau secara fisik tidak memungkinkan untuk ditarik.


WDS Point to Multi Point
Gambar diatas ini adalah contoh konfigurasi WDS Link yang menghubungkan Point to multi point WDS Link. Sementara gambar dibawah berikut ini menggambarkan contoh diagram WDS Link yang berfungsi sebagai WDS Repeater.



WDS Repeater
Wireless Bridge dan Wireless Repeater
Pada diagram tiga gambar diatas, WDS dapat di bangun dalam beberapa konfigurasi, point-to-point; point-to-multipoint; dan WDS repeater.
Wireless Bridge
Wireless Distribution System yangditunjukkan pada gambar dibawah ini sering disebut sebagai konfigurasi “wireless bridge”, karena terjadi koneksi dua jaringan LAN pada layer data link. Access point bertindak sebagai standard bridge yang melewatkan traffic antar WDS Link (link yang menghubungkan ke access point / bridge lainnya) dan sebuah Ethernet port. Sebagai standard bridge, access point mempelajari MAC address sampai 64 wireless dan atau total 128 piranti wireless dan wired, yang dikoneksikan ke masing-2 port Ethernet untuk membatasi jumlah data yang dilewatkan.
Hanya data yang ditujukan kepada station yang diketahui berada pada peer Ethernet link, data multicast atau data dengan tujuan yang tidak diketahui yang perlu dilewatkan ke peer access point melalui WDS link.








3.30.2011

Jaringan Komputer ke-3 (Konfigurasi Wireless D-Link)

I. Alat dan Bahan
- Laptop

- Wireless D-Link DWL-2100AP

II.Langkah Pengerjaan
1.Kita menggunakan access point merk Dlink DWL-2100APAccess point Dlink DWL-2100AP memiliki alamat IP
default 192.168.0.50. Tujuan vendor memasangkan alamat IP adalah agar kita dapat mengkonfigurasi access point
melalui program aplikasi browser seperti (Internet Explorer) atau (Mozilla firefox). Gunakanlah gambar berikut
sebagai bahan referensi terhadap konfigurasi yang dilakukan pada access point Dlink DWL-2100AP. Gambar :
Ilustrasi Koneksi Wireless
2.Karena Wireless Dlink DWL-2100AP memiliki IP default 192.168.0.50, maka setelah wireless dihubungkan ke laptop menggunakan kabel Lan, maka selanjutnya aturlah Ip Address Laptop pada icon local Area Connection -> local area properties ->internet protocol (TCP/IP) properties sehingga menjadi seperti pada gambar berikut :
Setting IP Address Laptop (harus satu kelas dengan IP default Wireless)
3.Sebelum mulai mengkonfigurasi, periksa terlebih dahulu koneksi dari PC ke Access Point dengan menggunakan perintah Ping :
Jika Replay menyatakan Koneksi antara Komputer dan Access Point telah terkoneksi (OK). Ready for Configure, jika Time Out berarti belum terjadi Koneksi, coba cek Kabel LAN ataupun IP Address laptop.
4.Ketikkan IP default wireless pada address bar internet aplikasi kita, perhatikan gambar di bawah:
Pada kolom username isikan admin dan untuk kolom password dikosongkan (Security default dari wireless)
5.Muncul jendela konfigurasi awal Wireless seperti gambar di bawah ini :
Untuk menjalankan system konfigurasi Wireless, pilihlah run wizard lebih praktis untuk melakukan konfigurasi keseluruhan jaringan
6. Setelah melakukan running wizard, berikut tampilan jendela dan langkah-langkahnya :
Penjelasan Langkah-langkah konfigurasi Wireless DLink DWL-2100AP
Isikan Password baru pada kolom password, lalu ketikkan lagi password pada kolom verify password
Isikan Nama SSID, dan pilih sesuai data yang ada pada combo channel
(untuk memberi ruang beberapa laptop yang nantinya akan terkoneksi dengan wireless)

Pilih pada pilihan List box security level (sesuaikan kebutuhan)
Pilih Key type (danjurkan Hex), key size, dan First Key (yang menjadi password untuk membuka koneksi Wireless)
Konfigurasi telah selesai selanjutnya menuggu beberapa detik, untuk hasil konfigurasi wireless seperti gambar di bawah :

7. Setelah melakukan running wizard, berikut tampilan jendela dan langkah-langkahnya :
Aturlah Performance wireless settings (sesuaikan dengan kebutuhan)
Terakhir, aturlah DHCP Server Wirelees sebagai titik referensi IP address laptop yang akan dihubungkan.
Pengaturan konfigurasi sepenuhnya selesai

8.Bukalah jendela koneksi wireless, pilihlah nama SSID yang sama dengan yang dibuat pada konfigurasi Wireless awal, perhatikan gambar di bawah :
Setelah memilih SSID yang sama, akan timbul pesan password security key, perhatikan gambar berikut :
Isilah sesuai dengan first security key yang pada awal konfigurasi wireless dibuat
Pilihlah wireless conection status untuk melihat IP yang dapat ditangkap laptop dari wireless yang ada seperti gambar di atas.

3.23.2011

LAPORAN PRAKTIKUM JARINGAN KOMPUTER KE-2 "Membuat Kabel UTP "

Urutan pengkabelan pun berbeda antara Cross (Crossover) dan (Straight-through). Berikut kita bahas cara pembuatannya. Sebelumnya kita persiapkan peralatan yg dibutuhkan.

1. Kabel UTP Seperlunya

2. RJ-45 (8P8C modular jack)


3. Crimp Tool


4. Cable Tester


5. Switch



Langkah Percobaan :
Kita ibaratkan dalam satu panjang kabel memiliki kedua ujung sebut saja ujung A dan ujung B


A_____________________B

Langkah :
a. Kupas bungkus terluar kabel UTP menggunakan crimp tool, akan terlihat 8 kabel kecil warna-warni.
b. Urutkan kabel sesuai urutan yang diinginkan, T568A atau T568B

Straight (Straight-through)
Ujung A dan Ujung B
Kedua ujung kabel dibuat sama persis urutannya seperti pada gambar disamping.
Urutannya adalah:
1.Putih-orange – 2.Orange
3.Putih-hijau - 4.Biru
5.Putih-biru - 6.Hijau
7.Putih-coklat - 8.Coklat

(Perhatikan gambar di bawah ini)



Sedangkan pada :
Cross (Crossover)

Ujung A
Sedangkan pada pembuatan kabel PC-to-PC, kita menggunakna urutan yg berbeda pada salah satu Kabel..
Pada Ujung A Urutannya adalah:
1.Putih-orange - 2.Orange
3.Putih-hijau - 4.Biru
5.Putih-biru - 6.Hijau
7.Putih-coklat - 8.Coklat

Pada Ujung B
Urutannya adalah:
1.Putih-hijau - 2.Hijau
3.Putih-orange - 4.Biru
5.Putih-biru - 6.Orange
7.Putih-coklat - 8.Coklat
Atau cara singkatnya sama seperti membuat urutan pada ujung kabel Straight hanya saja urutan no.1 dirubah
menjadi no.3 dan no.2 menjadi no.6

6. Masukkan ujung2 kabel dengan cara mendorong hingga mentok pada ujung bagian dalam RJ-45
7. Gunakan crimping tool untuk memasang RJ-45. Masukkan pada lubang RG-45 (bagian paling besar) dan jepit
hingga terdengar suara.
8. Test kabel dengan cable tester. Jika kedelapan lampu led menyala bergantian sesuai urutannya, berarti sudah
tersambung dengan baik.


3.16.2011

Laporan Praktikum I (Jaringan Komputer) : Membuat Jaringan lokal sederhana

1. Bahan -Laptop -Kabel UTP -Switch 2. Langkah Percobaan dan Pengujian - Siapkan Kabel UTP yang terhubung dengan jaringan lokal - Colokkan Kabel UTP pada port connector RJ-45 yang ada pada laptop. - Buat jaringan lokal dengan cara mengubah IP pada ikon local area connection dan mengubanhnya menjadi IP static (192.168.0.1 dan DNS 255.255.255.0). berikut
penjelasannya :

Gambar 1.1 ikon local area network
Klik ikon yang dilingkari untuk membuka jendela Local Area Network.
Selanjutnya klik dua kali pada tulisan yang bewarna biru untuk merubah alamat IP dan DNS Laptop. Perhatikan gambar dibawah :

Gambar 1.2 local area network properties

Akan muncul jendela Internet Protocol (TCP/IP) properties, perhatikan gambar di bawah :

Aturlah alamat IP sesuai dengan aturan dosen, kemudian secara otomatis akan muncul DNS, DNS di atas merupakan DNS untuk IP yang berada di kelas C.
-Kemudian untuk mengecek terjadinya koneksi laptop, bukalah command prompt kemudian
ketikkan ping 192.168.0.1 –t untuk mengecek apakah ada data yang dikirim dan diterima.
-Perhatikan gambar di bawah ini :


3. Dari percobaan pertama dapat dianalisis bahwa adanya konflik antar IP pada jaringan lokal
yang disebabkan oleh ikut dipasangnya kabel yang tidak terpasang di laptop ke switch,
sehingga secara otomatis (DHCP) proses IP dapat berkonflik.

nb (sama dengan NIM 09.615.006 karena menggunakan satu laptop, laptop di lab tidak mendukung)